Dari Rumah ke Rumah Suwaji Menawarkan Pitutur dalam Tembang-tembang Jawa

Cuitan Mahasiswa dan Alumnus Jurusan Karawitan ISI Solo tentang Tembang Jawa

Jakarta – “Ternyata pengertian orang kebanyakan, tembang Jawa itu buat manggil hantu.”
“Belum juga mau belajar (tembang), udah serem duluan.”
“Dunia yang takgeluti selama ini dianggap klenik, sedih!”
“Jangan nembang, nanti hantu-hantu pada datang.”
“Mata kuliah tembang ditiadakan saja, pantes kampus banyak hantunya.”

Di atas adalah beberapa cuitan mahasiswa dan alumnus Jurusan Karawitan ISI Solo di akun media sosial setelah menyaksikan film horor Kembang Kantil yang saat ini sedang tayang di bioskop. Mereka prihatin banyaknya tembang Jawa yang digunakan sebagai musik pemanggil hantu pada film-film horor mutakhir. Kesan yang timbul kemudian, tembang Jawa (karawitan) adalah musik yang menyeramkan dan menakutkan.

tembang-macapat

Pada posisi ini pula, pandangan atau stereotip yang menempatkan karawitan, tembang Jawa, sebagai ekspresi seni yang menyimpang, musyrik, haram seolah semakin menemukan pembenarannya. Tembang tampak erat berhubungan dengan dunia gaib, klenik dan wigati. Kisah-kisah keadiluhungan dan kebanggaan akan karawitan kemudian luntur dengan pencitraan industrial yang dibangun di abad mutakhir.

Tembang

Tembang berarti nyanyian, dalam konteks kebudayaan Jawa berisi lirik-lirik puitis yang didendangkan dalam balutan nada slendro ataupun pelog. Tembang terdiri dari tiga klasifikasi, yakni gedhe (besar), tengahan (tengah), alit (kecil). Pembuatan teks lirik tembang tidaklah sederhana, namun seringkali didasarkan atas kaidah kultural yang ketat seperti guru gatra dengan kejelasan jumlah bait dan barisnya, guru wilangan berhubungan dengan jumlah suku kata, dan guru lagu yang berhubungan dengan jatuhnya vokal pada tiap bait atau baris.

Dengan kata lain, tembang dibuat dengan perenungan dan olah kreatif yang tinggi. Oleh karena itu teks lirik dalam tembang sering pula dianggap sebagai sebuah karya sastra dari para pujangga. Karya sastra yang diolah sedemikian rupa, tidak saja dideras untuk dibacakan, namun didendangkan. Sebagaimana para ibu yang melagukan tembang pengantar tidur bagi anaknya. Kata-kata itu berjumpa dengan bunyi yang bernada.

Memang teks lirik tembang dapat berkisah tentang apapun, baik persoalan nasihat kehidupan, politik, keagungan penguasa, maupun kisah percintaan. Dalam kultur masyarakat Jawa, tembang adalah ruang bernyanyi yang paling bebas untuk ditafsir. Seseorang dapat nembang dengan gaya dan ekspresinya yang personal, kapan pun dan di mana pun. Kisah tembang kemudian mengguratkan jejak-jejak keagungan kultur musik di tanah Jawa.

Dalam konteks yang lebih khusus, tembang menjadi jembatan manusia Jawa menelisik narasi asal muasal tentang dirinya. Lewat balutan teks lirik yang sarat makna, tembang tidak sekadar persoalan nyanyian, tapi distribusi kekayaan intelektual dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Tapi di hari ini, kita justru menempatkan tembang dalam satu wacana yang cenderung banal. Tembang tidak lebih sebagai sarana pemanggil arwah, hantu, dan sejenisnya.

Atribut-atribut kebudayaan, tak terkecuali tembang, seringkali dicomot begitu saja tanpa pertimbangan yang bijak dan arif. Semua demi kepentingan kalkulasi hitung-hitungan untung-rugi ekonomi. Tembang Jawa dianggap sebagai pikat yang mampu menambah citra dan karakter film agar tampak angker dan wigati. Ada pesan yang hendak disampaikan dalam film-film honor tersebut: jangan melantunkan tembang Jawa (misal Lingsir Wengi dan Durma) jika tidak ingin didatangi hantu-roh yang jahat.

Tembang Jawa Yang Dapat Memanggil Roh Halus

Tembang Jawa Yang Dapat Memanggil Roh Halus

Akibatnya, sebagaimana dikeluhkan oleh mahasiswa dan praktisi karawitan, tembang menjadi momok; bagaimana mau belajar kebudayaan Jawa –karawitan– lewat tembang, jika sejak awal mereka disuguhi pandangan dan wacana bahwa tembang tersebut memiliki efek buruk jika dilantunkan?

Pembabakan zaman senantiasa diikuti dengan perkembangan teks lirik tembang. Pada beberapa kasus, dalam tontonan wayang kulit misalnya, teks tembang macapat dapat diubah menjadi lirik yang cenderung vulgar demi kepentingan banyolan pertunjukan. Bahkan di media sosial semacam Youtube, contoh kasus tersebut dapat kita jumpai dengan mudah, yakni interaksi lirik erotis antara dalang dan sindhen lewat tembang-tembang tertentu. Hal ini cukup problematik.

Di satu sisi, pelaku seni seringkali abai dalam menjaga dan meneguhkan eksistensi tembang sebagai warisan kultural yang berharga. Namun di sisi lain, upaya mempertahankan eksistensi tembang justru terjadi dalam ruang-ruang anyar seperti film, dengan pemaknaan dan tafsir baru yang cenderung salah kaprah. Ironisnya, tafsir itulah yang kemudian menyeruak sebagai pembenaran. Kebudayaan Jawa kemudian menjadi korban industri. Kerugian tentu bukan dalam bentuk materi, namun pandangan, wacana, dan stereotip (anggapan-anggapan dan penilaian).

Perempuan

Demam film horor memang sedang terjadi di negeri ini. Yang menarik adalah hampir semua tokoh (hantu) utama adalah perempuan, dan pada peran itu pula tembang Jawa dilantunkan. Dalam film Kembang Kantil (2018) Nafa Urbach mendendangkan tembang Jawa. Julie Estelle dalam film Kuntilanak (2006), Renny Djajoesman dalam film Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak (2007), dan Luna Maya dalam film The Doll 2 (2017) juga melakukan hal yang sama.

Lingsir Wengi: Kesalahan Paradigma terhadap Tembang Jawa - Sumber: Kompas

Lingsir Wengi: Kesalahan Paradigma terhadap Tembang Jawa – Sumber: Kompas

Identitas keperempuanan dalam film horor juga seringkali menempatkan warisan kultural Jawa tentang mitos dan dongeng-dongeng sosok dan bentuk hantu. Hampir semua film senantiasa menempatkan hantu wanita berambut gondrong berbaju putih, atau dalam terminologi masyarakat Jawa disebut sundel bolong, kuntilanak, bahkan wewe gombel. Hantu-hantu perempuan itu menekankan satu dimensi penting terkait alam bawah sadar manusia Jawa tentang kekuatan sosok perempuan. Banyaknya hantu-hantu perempuan sekaligus menjelaskan tentang sosok tubuh yang banyak disakiti alias teraniaya hingga mati, yang kemudian menuntut balas.

Karena latar yang demikian, pemanggilan sosok-sosok hantu tersebut terasa pas jika dilakukan lewat nyanyian berujud tembang Jawa. Dan, untuk menguatkan simbol tentang “kuasa perempuan“, maka perempuanlah yang paling cocok melantunkannya. Dengan suara yang cenderung lirih dan parau, sayup-sayup sebagaimana seorang ibu yang meninabobokkan anaknya, tembang itu dinyanyikan.

Kita terlalu sulit melacak jejak kultural hubungan antara tembang Jawa dengan ritual pemanggilan hantu. Dalam epos dan dongeng yang ada, tembang Jawa justru hadir sebagai sarana legitimasi politis kekuasaan raja-raja di Jawa. Dalam film, hari ini kita melihat dan mendengar tembang Jawa dilantunkan sebagai pemanggil setan. Ke depan, mungkin gamelan akan dibunyikan sebagai sarana pesugihan, serta wayang untuk santet. Idealnya, hadirnya nuansa tradisi suatu kebudayaan tertentu dalam film dapat diikuti dengan riset yang mendalam. Tidak sekadar asal tempel, namun berakibat fatal bagi kebudayaan (musik) itu sendiri.

Aris Setiawan etnomusikolog, pengajar di ISI Surakarta

(mmu/mmu)

Related Posts