Document

Jurnal : Ekonomi Kreatif Dalam Menciptakan Lapangan Kerja Mandiri Pada Sektor Pariwisata Desa

Abstrak

Masyarakat yang ingin berwisata menjadi peluang yang sangat signifikan, karena dalam perekonomian membutuhkan timbal balik dari wisatawan dan pelaku ekonomi untuk saling melakukan transaksi jual beli. Pariwisata desa dan industri kreatif, bidang tersebut merupakan satu keterkaitan karena dampak pengembangan yang positif pada masyarakat. Ekonomi kreatif di kawasan wisata desa menjadi sebuah solusi masyarakat desa dalam membuat produk dan jasa untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Sehingga masyarakat mampu mengembangkan potensi desa untuk membuka lapangan pekerjaan di masing-masing desa. perlu adanya inovasi dan kreatifitas dari masyarakat desa atau pemerintah untuk potensi desa yang dimanfaatkan untuk menjadi wisata desa terbarukan dan secara keberlanjutan

Kata Kunci : Ekonomi kreatif, Wisata desa, Masyarakat

PENDAHULUAN
Pariwisata merupakan salah satu sektor terpenting dalam penyumbang devisa negara dan mampu memberikan sumbangan yang cukup bagi pembangunan nasional. Kebutuhan wisatawan tidak hanya pada keindahan alam dan kelengkapan fasilitas wisata melainkan keleluasaan dan interaksi dengan lingkungan dan masyarakat lokal. Berdasarkan konsep diatas, perlu di rumuskan terkait pariwisata berbasis interaksi sosial dan pengembangan masyarakat. Secara keberlanjutan, konsep pariwisata pedesaan dengan ciri yang unik merupakan solusi bagi masyarakat pedesaan dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat desa (Ramadana & Ribawanto, 2010; Susyanti, 2013). kecenderungan wisatawan sekarang ini lebih rasional dan memiliki karakter bahwa kepuasan wisatawan tidak hanya didasarkan fasilitas modern melainkan didasari pada intensitas interaksi masyarakat dan alam. Pergeseran masyarakat yang haus akan berwisata menjadi peluang yang sangat signifikan, karena dalam perekonomian membutuhkan timbal balik wisatawan dan pelaku ekonomi untuk saling melakukan transaksi jual beli.

Perkembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menegah (UMKM) Indonesia menurut BPS mengalami kenaikan sebanyakk 3% setiap tahunnya. Perkembangan ini berarti UMKM merupakan suatu yang strategis untuk membina, mengembangkan masnyarakat di bidang ekonomi dan UMKM tersebut mampu bertahan di tengah krisis ekonomi (Saputra, 2014; Sari, 2011). Sejalan dengan program pemerintah, sehingga pemerintah telah memberikan upaya-upaya pemberdayaan berupa kebijaksaan, program dan kegiatan, sehingga upaya dalam bentuk mengembangkan masyarakat untuk membuat industri kreatif sangatlah kuat. Kini ekonomi kreatif dalam bentuk UMKM merupakan usaha yang masih sangat banyak peluang untuk berkembang dan dengan perkembangannya mampu memberikan hasil yang optimal.

Apabila disandingkan antara wisata desa dengan industri kreatif, maka kedua bidang tersebut merupakan satu keterkaitan karena dampak pengembangan yang sangat signifikan. Seperti halnya, pemberdayaan perekonomian masyarakaat desa yang maju dan tidak ketergantungan terhadap pemerintah karena kebutuhan lapangan kerja semakin menyempit, dan pengembangan wisata desa untuk perekonomian masyarakat desa sekaligus menambah perekonomian desa untuk lebih mandiri dengan menggali potensi-potensi yang ada pada desa untuk dikembangkan.

PEMBAHASAN

Konsep Pengembangan Ekonomi kreatif Melalui UMKM

Pengembangan perekonomian bangsa dalam konteks globalisasi maka daya saing merupakan sebuah kunci utama agar bisa dan mempertahankan untuk mencukupi kehidupan masyarakat. Ancaman perekonomian suatu bangsa akekatnya ditujukan kepada faktor produksi dan pengolahan, karena itu pembinaan ekonomi pada dasarnya merupakan penentuan kebijaksanaan ekonomi dan pembinaan faktor produksi serta pengolahanmasyarakat dalam bentuk produksi (Lembaga Ketahanan Nasional, 1995). Masyarakat sendiri perlu adanya peningkatan daya saing, hal tersebut membutuhkan kreatifitas dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah dan Kualitas manajemen dari pelaku UMKM tersebut. Kreatifitas yang tinggi mampu menciptakan produk daya saing yang berkualitas.

Pengembangan ekonomi kreatif akan mampu menjadikan pesaing akan terkikis karana ekonomi kreatif mampu menyerap lapangan kerja mandiri, menambah pendapatan daerah dan mencitrakan wilayah pada tingkat global. Perlu diartikan, Menurut KBBI ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep dibidang ekonomi dalam mengembangkan informasi dan kreatifitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari individu masyarakat sebagai faktor utama. Sedangkan Departement for culture, media and sport (DCMS) pemerintah United Kingdom mengartikan ekonomi kreatif sebagai as those industries which their origin in individual creativity, skill, and talent, and which have a potensial for wealt and job creation through the generation and exploration of intellectual property and content (industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan kerja melaluia penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu) (Saksono, 2012). Jadi hal terpenting dalam ekonomi kreatif adalah kreatifitas dari sumber daya manusia tersebut untuk dikembangkan menjadi sebuah ide untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Ekonomi kreatif masyarakat Indonesia perlu dikembangkan karena menurut Mari Elka Pangestu menyebutkan beberapa alasannya, yakni :
1. Memberikan kontribusi ekonomi kepada negara secara signifikan;
2. Menciptakan iklim bisnis yang positif dan bersaing dengan perekonomian negara lain;
3. Membangun citra dan identitas bangsa;
4. Berbasis pada sumberdaya terbarukan dan membangun sumberdaya secara keberlanjutan;
5. Menciptakan produk inovasi dan kreativitas yang merupakan icon negara;
6. Memberikan dampak sosial yang positif.

Kegiatan-kegiatan ekonomi kreatif yang dapat dijadikan peluang bisnis masyarakat sebagai berikut;
1. Periklanan;
2. Arsitektur;
3. Pasarbarang seni;
4. Kerajinan (handicraft);
5. Desain;
6. Fashion;
7. Film, video dan fotografi;
8. Permainan interaktif;
9. Music;
10. Seni pertunjukan;
11. Penerbitan dan percetakan;
12. Layanan computer dan piranti lunak;
13. Radio dan televise; dan
14. Riset dan pengembangan.

Jenis-jenis kegiatan tersebut dapat dikembangkan masyarakat secara mikro, kecil dan menengah. Secara teknis untuk memulai UMKM perlu adanya jiwa kewirausahaan yang berarti memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Guna menjadi wirausahawan yang berhasil, maka syarat utama yang harus dipenuhi adalah memiliki jiwa dan watak bekerja keras dan ulet (Sari, 2011). Untuk membangun UMKM perlu adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu hal yang baru dan berbeda (ability to create the new an defferent) atau kemampuan kreatif dan inovatif. Kemampuan kreatif dan inovatif tersebut secara nyata tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai berbisnis, kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baru, kemauan dan kemampuan untuk mencari peluang, kemampuan dan keberanian untuk menanggung resiko dan kemampuan untuk mengembangkan ide dan mengembangkan potensi sumberdaya yang tersedia. Namun dalam mendirikan sebuah usaha perlu adanya perencanaan yang matang dan mengetahui konsekuensi dalam melaksanakan usaha tersebut.

Pemanfaatan potensi desa sebagai peningkatan ekonomi kreatif masyarakat

Dewasa ini Pengembangan pariwisata merupakan salah satu andalan pembangunan di Indonesia sebagai negara yang sangat kaya akan obyek wisata karena keragaman budaya dan keindahan alamnya. Potensi wisata yang ada disetiap daerah dan pelosok, yang memberikan peluang untuk peningkatan pariwisata baik dari segi kuantitas maupun segi kualitas agar dapat menjaga sifat keandalannya yang belum nampak kontribusinya pada masalah peningkatan dan peran kepariwisataan pada pembangunan daerah. Pada dasarnya menurut Undang-undang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pariwisata merupakan berbagai macam kegiatan wisata dan di dukung oleh berbagai macam fasilitas dan layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha atau pemerintah. Adapun kompone-komponen wisata sebagai berikut :
1. Obyek dan daya tarik wisata;
2. Trnasportasi dan infrastuktur;
3. Akomodasi dan tempat penginapan;
4. Usaha makanan dan minuman; dan
5. Jasa pendukung lainnya semisal biro perjalanan, penualan kerajian tangan, informasi, jasa pemandu dan lain sebagainya.

Pariwisata desa dengan memanfaatan potensi desa untuk menjadi desa wisata sangatlah dibutuhkan untuk pengembangan dan menjadikan Indonesia lebih maju dari sektor pariwisata. Laporan Badan Pengembangan Sumberdaya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2009 menjelaskan tentang sektor pariwisata yang merupakan salah satu sumber divisa negara yang sangat penting. Untuk itu untuk menjadikan desa menjadi desa wisata diperlukan penggalian potensi-potensi desa. Penggallian potensi desa bisa dilakukan oleh masyarakat setempat desa, pemerintah desa,pemerintah daerah maupun lembaga-lembaga yang terkait, artinya siapapun mampu mengembangkan dan menggali potensi desa.
Penggalian tersebut untuk mendata potensi-potensi yang mampu dikembangkan dalam bentuk laporan. Selanjutnya ditindak lanjuti kepada pemerintah desa untuk dikembangkan. Penggalian potensi yang dimaksud bahwa masyarakat berupaya membangun kepariwisataan yang perlu dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan, dengan harapan hasil pembangunan kepariwisataan itu dapat mempengaruhi bertambahnya jumlah kedatangan wisatawan dan memperpanjang lama tinggal serta kesan wisatawan terhadap aset wisata yang ada.

Pemahaman mengenai desa wisata cukup beragam antara lain suatu bentuk lingkungan pemukiman yang mempunyai ciri khusus baik alam maupun budaya yang sesuai dengan tuntutan wisatawan. Dalam pelaksanaannya secara ekonomi, wisatawan merupakan donatur utama. Untuk itu selain pemanfaatan potensi desa sebagai desa wisata namun pengembangan masyarakat dalam memanfaatkan peluang wisatawan untuk perputaran ekonomi kreatif masyarakat di desa tersebut.
Penggalian potensi desa untuk dijadikan desa wisata memerlukan pemahaman an analisis yang tajam. Perlu diperhatikan, bahwa desa tersebut apakah sudah memiliki potensi wisata atau tidak. Semisal desa tersebut telah memiliki sejenis air terjun, waduk atau danau, taman, hutan, pemandangan alam, dan lain sebagainya, artinya desa tersebut sudah memiliki potensi yang nampak hanya saja pemerintah dan masyarakat setempat tinggal meningkatkan daya wisatanya. Sedangakan bagi desa yang belum mempunyai potensi desa yang tampak maka desa tesebut bisa melihat kondisi warga sekitar, semisal di pertanian, kesenian, peternakan, atau kebudayaan masyarakat yang menarik wisatawan. Hal tersebut mampu dikembangkan sebagai potensi desa wisata.

Sebagai contoh untuk desa yang belum memanfaatkan potensi desa yang nampak, yakni desa Senggreng Kecamatan Sumber Pucung Kabupaten Malang. Desa tersebut telah mempunyai berbagai potensi yang nampak namun pengembangan potensi tersebut masih belum ada. Kawasan wisata di Desa Senggreng merupakan bagian dari pengembangan pariwisata dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai aset wisata yang menarik sebagai obyek dan daya tarik wisata alam. Potensi wisata utama adalah Telaga Kromoleo. Apabila potensi tersebut dapat di kembangkan dan di tata secara optimal, waduk tersebut dapat menjadi suatu kawasan ekonomi wisata yang handal dan benar-benar layak dipasarkan baik untuk wisatawan nusantara bahkan wisatawan mancanegara dan memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian masyarakat desa untuk mengembangkan UMKM dan menambah penghasilan desa. Waduk kromoleo Desa Senggreng memiliki luas kurang lebih 14 Ha dengan debit air telaga sekitar 25 liter/detik dan kedalaman waduk sekitas 5-8 meter. Waduk tersebut mampu mengairi sawah seluas 52 Ha karena terdapat dua sumber air di tepi telaga.

Pengembangan Telaga Kromoleo sangat berpotensi dijadikan tempat wisata, sekaliagus dapat membantu masyarakat senggreng dalam memajukan ekonomi dan membuka lapangan kerja yang efektif karena dikelola dan dikembangkan mayarakat desa senggreng sendiri. Berikut usaha-usaha yang mampu dilkukan masyarakat senggreng dalam mengembangkan ekonomi kreatif :
1. Kerajinan (handicraft), merupakan usaha menciptakan barang atau produk dengan menggunakan tangan atau mesin sederhana dan memiliki fungsi pakai atau keindahan sehingga memiliki nilai jual. Kerajinan tesebut dapat dipasarkan di sekitar waduk kromoleo sebagai buah tangan untuk wisatawan.
2. Pemancingan dan tambak ikan, yakni usaha tersebut memanfaatkan waduk kromoleo sebagai media dan tempat. Konsepnya masyarakat menawarkan kepada wisatawan untuk edukasi terkait penangkaran ikan.
3. Permainan atau outbound, yakni permainan interaktif guna meningkatkan kekompakan tim, kreatifitas dan mengasah otak wisatawan.
4. Panggung kesenian, yakni memanfaatkan kesenian desa untuk ditampilkan saat acara-acara tertentu atau untu menarik wisatawan agar berkunjung ke waduk kromoleo. Kesenian tersebut memanfaatkan kesenian dan budaya sekitar Desa Senggreng
5. Usaha makanan dan minuman, disekitaran waduk kromoleo disedian kios-kios kecil untuk warga Desa Senggreng untuk berjualan maupun membuat inovasi makanan dan minuman untuk disuguhkan kepada wisatawan.
6. Homestay, usaha tersebut memanfaatkan rumah-rumah warga, apabila wisatawan berkunjung ke waduk kromoleo dan berkeinginan untuk bermalam, maka disediakan rumah warga untuk penginapan. Selain itu guna homestay dengan memanfaatkan rumah warga dan wisatawan mampu berinteraksi sosial langsung kepada warga desa senggreng.
Usaha-usaha tersebut mampu dikembangkan warga Desa Senggreng dan masih banyak usaha-usaha kreatif lainnya untuk dikembangkan masyarakat.

Pengalian potensi desa yang sudah mempunyai potensi wisata yang sudah nampak berbeda dengan desa yang masih belum mempunyai potensi wisata sama sekali, contoh desa Ganungkidul Kecamatan Nganjuk Kabupaten Nganjuk. Desa tersebut masih belum mempunyai potensi wisata yang nampak, namun Desa Ganungkidul memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadikan Desa Ganungkidul menjadi Desa wisata. Artinya, desa tersebut membuat wisata buatan. Potensi yang bisa dikembangkan dari desa tersebut murni dari sumberdaya manusia tersebut. Dalam arti pemberdayaan manusia untuk dijadikan peluang bisnis atau meningkatkan ekonomi desa.

Langkah-langkah dalam menngupayakan pemberdayaan masyarakat desa memang harus dikoordinir pemerintah desa atau instansi masyarakat. Karena masyarakat desa perlu adanya stimulus atau pemantik usaha dan bisnis. Berikut langkah-langkah yang dilakukan dalam upaya pemberdayaan masyarakat,
1. Inisiatif masyarakat untuk membuat suatu program desa yang bersifat menguntungkan masyarakat desa.
2. Bekerja sama dengan perusahaan yang notabene mempunyai dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk bekerjasama dengan pihak desa untuk pengembangan usaha-usaha masyarakat desa.
3. Penetapan jenis usaha desa yang mempunyai nilai wisata dan menarik bagi wisatawan. Usaha tersebut biasanya lebih ke penangkaran atau perkebunan semisal, kampung tani, kampung rambutan, kampung hidrophonik, kampung lele, kampung cokelat dan lain sebagainya.
4. Melakukan pemberdayaan masyarakat dengan jenis usaha yang telah ditetapkan oleh msayarakat desa.
5. Membuat brand design desa wisata
6. Promosi dan memasarkan produk-produk yang telah dikembangkan.

Jadi, Penggalian potensi desa untuk dikembangkan menjadi desa wisata berbasis ekonomi kreatif merupakan inisiatif dan kesadaran masyarakat desa untuk memanfaatkan potensi tersebut. Pada prinsipnya, pengembangan desa wisata akan bisa dikembangkan dengan baik asalkan dikelola dengan sungguh-sungguh sehingga perputaran perekonomian tetap terjaga dan tidak harus menunggu kebijakan dari pemerintah. Artinya dalam mengembangkan potensi bisnis harus didasari inovasi dan kreatifitas masyarakat itu sendiri seperti yang dikatakan Peter Mason dalam bukunya Tourism Impacts, Planning and Management yakni in fact industries has tended to view goverment as being responsibility for any regulation relating to tourism (Mason, 2003).

Faktor-faktor yang harus cermati dalam mengembangkan perekonomian masyarakat desa berasis wisata yakni,
1. Ada sesuatu yang bisa dilihat;
2. Ada sesuatu yang bisa di kerjakan; dan
3. Ada sesuatu yang bisa dijual.
Pemahaman dan persiapan demi berkembangnya ekonomi kreatif sebagai penggeak sektor wisata, maka dilakukan strategi secara umum diantaranya :
1. Meningkatkan peran seni dan budaya pariwisata;
2. Memperkuat keberadaan industri kreatif;
3. Mempersiapkan sumber daya manusia yang kreatif;
4. Melakukan pemetaan aset yang dapat mendukung munculnya ekonomi kreatif;
5. Mengembangkan pendekatan regional pada jaringan industri kreatif;
6. Mengindentifikasi kepemimpinan untuk menjaga keberlangsungan dari ekonomi kreatif, termasuk unsur birokrasi;
7. Membangun dan mempeluas jaringan seluruh sektor; dan
8. Mengembangkan strategi dan mensosialisasikan pengembangan wisata dengan pengembangan ekonomi kreatif.

Dalam mengembangkan ekonomi kreatif pada wisata desa, perlu diperhatikan tantangan-tantangan yang harus dihadapi, karena tantangan tersebut menjadi penghambat dalam mengembangkan usaha, seperti :
1. Manajemen ekonomi kreatif yang harus disinergikan dengan sektor pariwisata;
2. Hal demikian maka diperlukan produk yang berkualitas dari usaha masyarakat desa;
3. Manajemen keuangan yang perlu diperhatikan apabila mendapatkan bantuan dari perusahaan atau pemerintah, seringkali laporan pertanggung jawaban keuangan menjadi masalah utama.
4. Pelatihan dan pembentukan karakter secara berkala untuk pelaku bisnis untuk inovasi produk industri kreatif.

PENUTUP
Untuk meningkatkan daya saing masyarakat dalam hal perekonomian, masyarakat tersebut perlu adanya suatu usaha yang bersifat kreatif. Usaha tersebut membutuhkan kreatifitas dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah dan Kualitas manajemen dari pelaku UMKM. Kreatifitas yang tinggi mampu menciptakan produk daya saing yang berkualitas dan mampu mempromosikan bangsa ke mancanegara. Ekonomi kreatif masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk perencanaan yang matang, pengembangan produk dan melihat peluang pasar.

Penggalian potensi desa dan pengembangan potensi tersebut untuk dijadikan wisata perlu diakukan oleh masyarakat, pemerintah maupun intansi atau lembaga yang sukarela mengembangkan potensi tersebut. Pengaplikasian usaha masyarakat tersebut dapat dilakukan pada sektor pariwisata di desa. Wisata desa menjadi peluang tersendiri bagi masyarakat desa yang akan mengembangkan perekonomiannya, karena dengan adanya wisata kemungkinan besar wisatawan akan berkunjung di desa tersebut. Wisatawan merupakan salah satu donator tetap untuk membeli produk atau menggunakan jasa ekonomi kreatif. Dengan adanya pengembangan ekonomi masyarakat berbasis wisata desa, diharapkan mampu meningkatkan tarah kehidupan masyarakat, membentu desa menjadi desa mandiri dan membawa nama baik bangsa di kancah internasional.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Lembaga Ketahanan Nasional. (1995). Kewirausahaan Untuk Masyarakat. jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Mason, P. (2003). Tourism Impact, Planning and Management. Burlington: Butterworth Heineann.
Solahudin, Imam. (2008). Wawasan Ekonomi Islam. Garut: ICMI Media Publisher.
Suryana. (2003). Ekonomi Kreatif, Ekonomi Baru : Mengubah Ide dan Menciptakan Peluang. Surabaya: Salemba Medika.

Jurnal
Astuti, N. N. S. (2016). Strategi Pengembangan Potensi Desa Mengesta Sebagai Desa Wisata Berbasis Ekowisata. Jurnal Sosial Dan Humaniora, 6(1), 113–122.
Ramadana, C. B., & Ribawanto, H. (2010). Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes, 1(6), 1068–1076.
Saksono, H. (2012). Creative Economy : New Talents For Regional Cmpetitivenes Triggers. Jurnal Bina Praja, 4, 93–104.
Saputra, S. D. (2014). Pertumbuhan ekonomi kreatif sebagai penggerak indostri pariwisata, 318–325.
Sari, A. R. (2011). Ekonomi Kreatif : Konsep, Peluang dan Cara Memulai.
Susyanti, D. W. (2013). Potensi desa melalui pariwisata pedesaan. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 12(1), 33–36.

Regulasi
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

 

Oleh : Dicky Dwi Wibowo
HMI Cabang Malang Badko Jawa Timur
Jurnal LK III Badan Kordinasi Nusa Tenggara

Related Posts