rembuk-japung-lsmi

Cintai Kampungmu Jangan Kampungan

[Malang, 24-1-2016] Siang ini, atas prakarsa Pak Priyo Sunanto Sidhy (Kampung Cempluk), beberapa aktivis dan penggerak-pemberdaya komunitas yang mengarus utamakan pendekatan budaya dalam praktek dan laku berpikirnya mengadakan sambung rasa – sharing – assesment bersama. Caranya sederhana, yaitu dengan mengumpulkan dan mengidentifikasi seluruh potensi – khabar dan pengalaman terbaik – asset-asset kultural yang menghidupi dan melestarikan kohesi sosial dan bahkan memberi makna kehidupan bagi anggota-anggotanya. Tentu saja, semua orang bergembira karena memulai sesuatu dengan kesadaran bahwa selalu hal-hal baik – indah – bernilai tersedia di lingkungan komunitasnya.

Yang kebetulan ketempatan menjadi tuan rumah adalah Cak Win (Kampung Celaket). Sebuah kampung di jantung kota Malang yang semakin hari semakin menampakkan geliat kemandirian dan kepercayaan dirinya menyuarakan pentingnya kesadaran dan pemahaman yang utuh terhadap tradisi budaya setempat. Dan yang lebih penting lagi, aktivitas dari geliat ini terutama diperlihatkan oleh generasi muda dan anak-anak. Gamelan Nusantara yang diperkenalkan dari kampung Celaket telah memberi warna baru bagi gerakan budaya tidak hanya di Malang Raya melainkan juga mulai semakin dikenal luas. Sebuah Kampung yang semakin menegaskan bahwa kelestarian tradisi budaya lokal tidak berada di museum, perpustakaan, studio, dan kantor-kantor melainkan di tiap harian pertemuan antar manusia penghuni kampung yang memproduksi dan mengkonsumsi karya seni tradisi dan budaya.

Hadir juga dalam diskusi adalah Pak Bambang Irianto (Kampung Gelintung). Gelintung yang dikenal sebagai kampung sentra penghasil Kripik Tempe oleh-oleh khas Malang itu juga merupakan sebuah kampung percontohan go green bagi kampung-kampung padat penduduk di tengah kota. Dari kampung ini diperkenalkan pemberdayaan komunitas yang berbasis pada kekuatan dan kebiasaan indah para penghuni kampung tanpa kehilangan sikap kritis terhadap kencenderungan budaya massa yang acuh tak acuh pada kelestarian lingkungan. Mencintai kampung adalah mencintai hidup dengan nyaman dan tentram dalam kampung. Sebagian besar masyarakat tentu menghendaki hal itu. Maka itulah peluang-peluang penting yang perlu diingatkan terus-menerus dan dikhabarkan pada kampung-kampung yang lain.

Selain juga terjadi sharing mengenai bagaimana ketahanan budaya dan usaha pengarus-utamaan budaya dalam sistem pendidikan dari yang paling dasar, dalam sistem sosial kemasyarakatan, dan dalam sistem politik itu perlu ditawarkan sebagai alternatif kemandegan tingkat kemajuan negara, juga nampak bahwa hal-hal kecil yang nyata dalam visi masa depan perlu segera dilakukan oleh setiap orang yang bergerak di bidang seni dan budaya. Gus Icroel Doang (Kampung Gunung Kunci – Jabung) yang juga adalah pemrakarsa Gubug Baca Lentera Negeri – sebuah jaringan antar kampung perpustakaan dan ruang baca bagi anak-anak – melihat bahwa keterlibatan masyarakat setempat dan para relawan (mahasiswa-siswa pendidikan tinggi) perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses partisipatif dalam menyusun perencanaan strategis gerakan kampung berdaya yang dimaksud.

Dari diskusi yang mendalam fokus pada pengarus-utamaan gerakan seni dan budaya dalam pemberdayaan kampung siang itu, ada banyak hal dapat dipelajari lebih lanjut untuk selanjutnya dirancangkan sebagai sebuah modul alternatif agar tiap usaha komunitas tidak mudah tergoda untuk dikapitalisasi dan dijadikan alat kepentingan politik tertentu melainkan benar-benar gerakan dari bawah yang sustainable tertuju terutama pada peningkatan harkat kehidupan manusia seutuhnya.

Sumber informasi ini repost dari website japungnusantar.org

Penulis: Kristanto Tatok | Editor: Redy Eko P

Related Posts