kubah_masjid

Bacaan Sore! Kutipan sekaligus mungkin jawaban untuk teman si “A”

Sekilas kutipan yang saya ambil untuk sore ini yang sedang ngopi dengan teman saya sama-sama mantan anggota di LSMI, maaf saya tidak menyebutkan namanya dan ketepatan ngopi di DW Cafe. Kutipan ini sekaligus sebagai bahan apresiasi dari penyikapan tentang apa yang di pertanyaakan oleh teman saya kali ini. Dalam kutipan ini, berawal dari sebuah pertanyaan yang simple tentang:

Apakah Makna Penggunaan Simbol Bulan dan Bintang di Kubah Masjid?

Dari sudut pandang sejarah dan maknanya yang terkait dengan idiom Islam dan Budaya, dan berikut jawabanya;

Rasanya, untuk keperluan seperti ini, kita perlu membedakan antara Islam sebagai ajaran di satu sisi, dengan Islam sebagai peradaban dan kebudayaan di sisi lain. Islam sebagai ajaran bersifat doktrinal (kita sebut saja ‘Islam Doktrin’), harus bersumber dari al-Qur’an dan Hadits; sedangkan Islam sebagai peradaban (‘Islam Peradaban’) muncul dari hasil kreasi manusia Muslim yang sejalan dengan nilai-nilai al-Qur’an dan Hadits. Atau bisa juga merupakan hasil akulturasi nilai-nilai Islam dengan kebudayaan yang sudah berkembang pada suatu masa atau di suatu tempat tertentu.

Nah, mesjid yang berkubah itu termasuk ‘Islam Peradaban’. Itu adalah salah satu hasil akulturasi masyarakat Muslim (dengan nilai-nilai Islam yang mereka anut) dengan budaya lain. Pada masa Rasulullah saw. kubah belum dikenal. Mesjid-mesjid dibangun tanpa kubah. Tradisi penggunaan kubah dalam bangunan mesjid baru dikenal setelah masa Umar bin Khattab ra. yang membangun qubbat ash-shakhrah (Kubah Batu) di Palestina. Budaya membangun mesjid dengan kubah kemudian menemukan momentum untuk berkembang dan meluas ke seluruh belahan dunia Islam ketika Turki Usmani berkuasa dan menjadi imperium besar.

Karena merupakan produk budaya, kubah bukan suatu keharusan yang melekat pada mesjid. Mesjid tetap ‘sah’ sebagai mesjid walaupun tanpa kubah. Mesjid-mesjid kuno di Jawa banyak sekali yang tidak memiliki kubah. Mesjid-mesjid yang dibangun oleh Yayasan Muslim Pancasila pada era Soeharto seluruhnya tidak memiliki kubah dengan bentuk setengah bulatan.

Begitu juga dengan lambang bulan [sabit] dan bintang. Itu juga bukan doktrin, bukan ajaran bahwa umat Islam harus menjadikan bulan bintang sebagai lambang. Tetapi, meski demikian, ia mempunyai muatan filosofi yang dapat dimengerti.

Pada bulan sabit itu terkandung makna semangat agama Islam itu sendiri, yaitu semangat pembaruan. Sebab, bulan selalu baru, selalu berubah setiap hari. Dari kecil, tipis, membesar, kemudian bulat pada saat purnama, lalu mengecil lagi, dan akhirnya tidak terlihat. Ajaran Islam pun diyakini sebagai ajaran yang ‘memperbarui’ ajaran agama-agama yang sudah diturunkan sebelumnya.

Karena setelah Islam tidak ada lagi agama baru yang diturunkan oleh Allah, dan tidak ada lagi nabi dan rasul baru yang diutus oleh Allah kepada umat manusia, maka agama Islam harus mengandung semangat pembaruan itu, untuk menjamin kesinambungan dan keabadian ajaran Allah di Bumi hingga hari Kiamat. Semangat pembaruan ini pula yang terkandung di dalam peristiwa hijrah yang dijadikan awal penanggalan kalender Islam.

Seperti halnya kubah, lambang bulan sabit dan bintang pun berkembang luas di dunia Islam pada masa Turki Usmani. Turki Usmani-lah yang pertama-tama menggunakan bulan sabit [dan bintang] sebagai lambang. Sampai saat ini bendera Turki bergambar bulan sabit dan bintang.

Meski merupakan ‘Islam Peradaban’, lambang bulan sabit juga bisa jadi ada muatan ‘ideologis’-nya. Ketika dunia internasional membentuk organisasi kemanusiaan bernama International Red Cross (diindonesiakan menjadi Palang Merah Internasional), banyak negara Muslim, terutama di Timur Tengah, yang menolak untuk bergabung. Bagi mereka, cross (yang berarti ‘palang’ atau ‘salib’) dinilai sangat sensitif yang merupakan lambang atau simbol agama tertentu. Sebagai gantinya, mereka menamakan organisasi serupa di negara mereka dengan nama Jam’iyyat al-Hilal al-Ahmar (Organisasi Bulan Sabit Merah). Di Indonesia pun sebelum reformasi hanya ada satu organisasi serupa, yaitu Palang Merah Indonesia (PMI), tetapi setelah era reformasi, yang antara lain ditandai dengan kebebasan lebih luas dibandingkan era sebelumnya,“ berdiri pula Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) di samping PMI. Tokoh-tokoh pendiri BSMI adalah tokoh-tokoh Muslim.

[M. Arifin-Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an]

Saya pandang mungkin tanya jawab diatas cukup menjadi apresiasi untuk kita semua untuk bersikap dan menyikapi persoalan lebih bijak, secara luas dan dalam, dan mungkin jawaban bagi pertanyaan teman saya tadi sori teman ngopi sore hari ini. Dari apresiasi ini mungkin bisa menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya sendiri berikut dengan pola dan cara berfikirnya sendiri. Namun bukan maksud untuk membenarkan maupun menyalahkan terhadap sesuatu hal tadi…Salam

Related Posts