warung-kopi

TERUNTUK TEMAN SI “A”: JOMBLO ABSURD YANG SEDANG GANDRUNG TAHLIL

Tulisan ini merupakan efek dari tersebutnya kalimat “Untuk Teman si “A” pada artikel di website ini beberapa hari yang lalu. “Bacaan Sore, Kutipan Sekaligus Mungkin Jawaban untuk Teman si “A “ begitu judul artikelnya, saya yang mempunyai nama panggilan berinisial A tentu dengan cekatan merasa GR, jangan-jangan artikel tersebut sengaja dibuat penulisnya teruntuk saya? meskipun setelah saya pikir- pikir ternyata ga ada untungnya sama sekali GR sama beliaunya ini, selain dia miskin improvisasi nge-GR in orang lain, beliau juga berjenis kelamin laki-laki. Eeiitss, jangan terus gegara saya GR sama penulisnya yg laki-laki ini, saya dianggap pro #LGBT, jangan lo ya.. sekali lagi jangan, Plliiissss..

Tapi gimana saya ga GR cobak, teman beliau yang berinisial “A” ya cuman saya ini, Antok. Masak iya dia capek-capek nulis sebanyak itu untuk mbahas Asu? meski sama-sama berinisial “A” saya yakin Asu belum tentu mau berteman sama dia. Kemungkinannya lagi, kemungkinan yang teramat sangat tidak mungkin, penulisnya menulis untuk dirinya sendiri, kebetulan nama penulis juga berinisial “A”, Anggo. Namun sudahlah, ijinkan saya tetap GR asal saya tidak dianggap terkena virus #LGBT itu sudah cukup.

Dalam artikel yang hampir 95% hasil kutipan tulisan orang itu, penulis seakan ingin menjawab pertanyaannya “Teman si A” yang kebetulan sedang ngopi bareng. Bayangkan, betapa cadasnya hidup si penulis artikel ini, hanya sekedar ingin menjawab obrolan warung kopi yang teramat santai nan ringan saja sampai harus membuat artikel segala. Subhahanallah. Ya meskipun artikel yang dibuat jenis artikel yang full kutipan, tidak mengapa, tetap Subhahanallah. Beliau sudah “mau” membuat artikel saja sudah lumayan. Lumayan ga nyambung, lho.. kok ga nyambung? Begini ceritanya

Obrolan warung kopian waktu itu berawal dari kegelisahan saya melihat kegenitan si pelayan café yang entah sengaja atau tidak menyebut kata “kopi karangploso” dengan memakai logat bahasa inggris sehingga konsonan “ploso” menjadi lebih tebal, lebih “”mecucu” bibirnya. Saya yang orang asli kota Malang tentu risih melihat fenomena itu, semakin jijik setelah tahu si pelayan yang bahenol itu ternyata juga asli suku jawa bukan sunda apalagi negro. Pikiran nakal saya seketika menebak, pasti si pelayan ini takut dibilang ga gaul, enggan di cap kampungan. Padahal “Cintai Kampungmu Jangan Kampungan”. sesuai dawuh para pegiat budaya di Jaringan Kampung Nusantara. Sejurus kemudian saya menyimpulkan bahwa ini pasti hasil modernisme, hasil silang sengkarut peradaban yang semakin menihilkan budaya lokal. Orang Jawa malu dengan ke-jawaannya. Bukankah hari ini anak muda sudah semakin dibuat asing dengan kebudayaan bangsanya sendiri? bukankah anak muda jaman sekarang dianggap tidak gaul jika belum berbahasa “elu-gue”?

Nah, riuh resah itulah yang coba saya curhatkan ke penulis artikel, bagaimana instrumen – instrumen sosial hari ini sudah semakin ingin men-talak budaya lokal. Yang cipratan buktinya baru saja kami alami dengan fenomena kata “ploso” yang dibaca tebal hasil kreasi pelayan yang genit tadi.

Selain contoh empiris dari pelayan bahenol tadi itu, fenomena yang lain misalnya beberapa minggu kemaren di media sosial sibuk memperbincangkan aksi anak muda yang masih “bau kencur” rame-rame menolak pemakaian konde. Demo anti-Konde! Betapa anak muda itu benar-benar tidak menghiraukan suasana hati para sinden. Kalo saja saya jadi sindennya langsung saja saya ganti kondenya dengan sikat gigi. Lhoo..???

Tepat jam 4 sore diskusi kami semakin gayeng, dari mulai rasan-rasan ke-bahenolan pelayan café, tentang pentingnya jas hujan di musim hujan, atau tentang penangkapan terduga teroris di kota Malang beberapa hari yang lalu, serta topik-topik yang lain yang sungguh minim kualitas dan sepele. Hingga sampailah kita pada topik agama dan budaya, islam dan tradisi yang gegara topik ini mas penulis artikel yang kebetulan juga berinisial “A” sangat terpesona dengan uraian saya, saking terpesonanya beliau sampai harus membuat artikel yang konon dengan artikel itu beliau berharap mampu menandingi kecemerlangan uraian saya. Iya kan? Ngaku aja masbro..

Satu hal lagi yang membuat saya tergilitik, alih-alih ingin tebar popularitas via artikel, si penulis artikel malah datar saja meskipun tidak sampai blunder. Bagaimana tidak ndatar, bahasan “Islam dan Tradisi” yang dicontohkan masih saja tentang tradisi kubah dan bulan sabit. Sah-sah saja sich, tapi kan kontroversi kedua tradisi itu kan sudah jadul, ga up to date, dan memang kedua isu itu sudah “selesai” di kalangan umat Islam Indonesia. Daripada yang itu, hambok yang lain, yang lebih faktual dan kekinian gitu, ingat anda ini owner nya http://greenboxindonesia.com lo ya.

Begini saja, kalau memang terlalu susah mencari isu yang faktual dan kekinian tentang Agama dan Budaya, bolehlah tradisi tahlilan mewakilinya. Di tengah masyarakat Indonesia, kita seringkali melihat praktek-praktek keberagamaan yang bagi sebagian orang tidak terlalu jelas apakah ia merupakan bagian dari agama atau budaya. Tidak sedikit di kalangan umat Islam di Indonesia yang beranggapan bahwa tradisi tahlilan adalah kewajiban agama, yang “harus” diselenggarakan meski sampai harus berhutang. Mereka merasa berdosa kalau tidak mengadakan tahlilan ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Padahal yang diperintahkan oleh agama berkaitan dengan kematian adalah “memandikan, mengkafani, menyalatkan, mengantar ke makam, memakamkan, dan mendoakan”. Sangat simple dan hampir tidak memerlukan biaya. Ini berarti bahwa upacara tahlilan pada dasarnya adalah tradisi, bagian dari budaya bangsa Indonesia, yang mungkin sudah ada sebelum datangnya Islam ke Indonesia, yaitu tradisi kumpul-kumpul di rumah duka, yang kemudian diislamkan atau diberi corak Islam.

Sekedar perbandingan, kewajiban agama yang bernama qurban (sekali setahun) dan aqiqah (sekali seumur hidup). Qurban dan Aqiqah adalah perintah agama meskipun kedudukan hukum fikihnya hanya sunnah mu`akkadah. Tapi di tengah masyarakat muslim secara umum, terutama di kalangan muslim Indonesia, qurban dan aqiqah ini kalah pamor dibandingkan dengan tahlilan. Selain itu, “sanksi sosial” yang dijatuhkan kepada orang yang tidak mengadakan tahlilan lebih keras dan menohok dibandingkan dengan orang yang tidak melaksanakan qurban dan aqiqah. Begitulah kira-kira..

Namun, selain semuanya itu, masih ada sesuatu yang begitu mengganjal di benak saya, seperti pertanyaan saya di awal-awal artikel ini, kenapa ya si penulis artikel yang kebetulan sama berinisial “A” dengan saya ini sampai begitu seriusnya membuatkan artikel hanya untuk obrolan warung kopi, bukankah diskusi bahkan guyonan di warung kopi waktu sedang ngopi itu biasa saja, se-biasa setiap perilaku Jokowi yang selalu disanjung oleh para Jokowers. Masak iya karena hidupnya terlalu serius? Masak iya dia kurang piknik?

Atau karena dia jomblo?

Related Posts